rianto isaac's Weblog

rianto utomo isaac sahala utomo

mobil, It’s a Jeep, you wouldn’t understand

leave a comment »

Saya pernah pake CJ-7 Diesel asli 10 tahunan. Gagah, enak dipake dan ga terlalu banyak masalah. Radius putar bagus dibanding jip sekelas dijamannya. Sdh ada stabilizer depan standar dan setir yg akan memendek sendiri jika terjadi tabrakan frontal, cukup bagus utk safety jip di jamannya.Rem depan udah disc brake juga masih jarang utk jip dijamannya.

Yang paling disukai adalah suspensinya, empuk utk kategori jip dgn perdaun depan belakang. Indikator dashboard yg cukup lengkap (oil pressure (psi, bukan H atau L), water temp, voltmeter plus lampu indikator utk setiap switch dan dimmer lampu dashboard.kurangnya switch dimmer head lamp di lantai dekat firewall.

Memang kelemahan yg paling disorot adalah chassis sering retak didekat mounting per depan kiri persis dibawah accu, klo da teliti merawat sering ditemui CJ yg sdh dilas/reinforce di daerah itu karena korosi oleh tetesan uap air accu. Klo ukuran chassis tdk berbeda jauh dgn FJ40, bedanya chassis FJ40 berbentuk pelat U dgn cross member yang lebih banyak sehingga lbh rigid dan kaku sehingga jadi lbh kuat utk dipake jumping dan diperlakukan kasar. Namun ada kekurangannya,karakteristik suspensi jadi lbh kaku dan kalah nyaman dibanding CJ-7.

CMIIW
Sebaliknya CJ-7 chassisnya berbentuk pelat persegi yg dibentuk dari dua pelat U yg dilas, hanya jumlah cross member lbh sedikit. klo ga salah cuma dua, di depan dan di atas roda belakang dekat mounting shock absorber. Yg membantu cuma pelat guard transmisi & transfer case yg bertugas seperti cross member. Chassis jadi lebih lentur, bisa dibayangkan mobil yg cukup berat dgn chassis yg lentur. Plusnya kenyamanan lebih baik walaupun msh pake per daun. Disamping wheel base yg lebih panjang, axle lebar (tdk semua tipe) dan tinggi kendaraan yg lebih rendah sehingga lebih enak diajak ngebut di tikungan.

Klo axle belakang sering rontok krn kontruksinya tdk one piece alias terdiri dr shaft dan hub yg dihubungkan oleh spline (suri). Sering rontok krn CJ-7 (bensin) enak digeber sampai roda belakang sering spin, lama-lama hubnya kalah dan bisa ngajak shaftnya aus dibagian spline. Selama 10 tahun pake, perbaikan paling ganti seal master silinder rem dan kopling per 2 tahun. selebihnya ga ada kerusakan berarti. Yang penting dirawat dgn benar. Cukup jaga kebersihan semua filter dan oli, tinggal isi solar. Irit lagi, dalkot 1:11 km/l luar kota 1:13 -1:14 km/l. Punya temen yg bensin memang minum, dalkot 1:4 km/l luar kota 1:5 – 1:6 km/l. Tapi lebih mudah dibikin galak krn ditunjak rasio gear transmisi yg bagus. Ga heran lagi jamannya Donny SQ ikut sprint rally bisa nyaingin Galant VR4 yg udah spek rally.

Akhirnya kembali ke kebutuhan dan masalah selera, mau kerja kasar/ekstrim ambil FJ40. Klo mau nyaman ambil CJ-7, klo mau diajak kasar2an, ganti dulu axle belakang yg one piece atau sekalian pake Dana 44.

rianto utomo bole nyontek dari http://www.serayamotor.com/diskusi/viewtopic.php?t=12114&f=12

Written by isaaconi

Januari 6, 2010 pada 3:17 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: